BI Ingatkan Inflasi di Penajam Paser Utara: Tomat dan Cabai Penyumbang Utama Kenaikan Harga
Info Penajam- Bank Indonesia (BI) memberi perhatian khusus terhadap perkembangan inflasi di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur. Meski angka inflasi daerah tersebut masih berada dalam rentang sasaran nasional, BI menilai fluktuasi harga sejumlah komoditas pangan, terutama hortikultura, patut diwaspadai karena berpotensi menekan daya beli masyarakat.
Harga Tomat Melonjak, Cabai Ikut Naik
Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi, mengungkapkan bahwa harga beberapa komoditas pangan menunjukkan tren kenaikan signifikan. Tomat, misalnya, mengalami kenaikan harga hingga 69 persen sepanjang tahun. Sementara itu, cabai rawit naik hampir 39 persen.
“Harga komoditas hortikultura memang fluktuatif. Kendati inflasi secara umum masih sesuai target nasional, kita tidak boleh lengah,” ujar Robi saat memaparkan kondisi ekonomi PPU, Selasa (26/8/2025).

Baca Juga : BRI Peduli Renovasi SDN 004 Sepaku, Hadirkan Sekolah Nyaman di Kawasan IKN
Inflasi PPU Hampir Sentuh Target Nasional
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi bulanan (month-to-month) Kabupaten PPU pada Juli 2025 sebesar 0,88 persen. Sementara inflasi kumulatif dari Januari hingga Juli 2025 (year-to-date) mencapai 2,37 persen, mendekati target nasional sebesar 2,5 persen.
Penyumbang inflasi terbesar datang dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, dengan andil 0,82 persen. Lima komoditas yang paling memicu inflasi adalah tomat, cabai rawit, semangka, daging ayam ras, dan beras.
Pentingnya Sinergi Menjaga Stabilitas Harga
Menurut Robi, menjaga inflasi tetap terkendali memerlukan kerja sama semua pihak, mulai dari pemerintah daerah, BI, aparat kepolisian, hingga para pelaku pasar. Sinergi ini diperlukan agar harga kebutuhan pokok tidak melambung tinggi dan tetap terjangkau masyarakat.
“Stabilitas harga sangat penting, apalagi PPU juga menjadi salah satu daerah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN). Dengan peran strategis itu, pengendalian inflasi harus jadi prioritas,” tambahnya.
Strategi Pemkab Kendalikan Inflasi
Bupati Penajam Paser Utara, Mudyat Noor, menegaskan pemerintah kabupaten telah menyiapkan strategi khusus untuk mengendalikan inflasi. Strategi itu mengacu pada empat pilar utama: keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta komunikasi yang efektif dengan masyarakat.
“Prinsipnya, kami ingin memastikan harga tetap stabil, pasokan aman, distribusi lancar, dan masyarakat selalu mendapat informasi yang benar terkait perkembangan harga,” jelas Mudyat Noor.
Lebih jauh, Pemkab PPU juga menyiapkan enam langkah konkret, antara lain:
-
Menggelar operasi pasar, pasar murah, dan gerakan pangan murah di setiap kecamatan minimal sebulan sekali.
-
Mengoptimalkan penyaluran beras SPHP (stabilisasi pasokan dan harga pangan) melalui operasi pasar dan gerakan pangan murah.
-
Mempercepat implementasi program pengendalian inflasi daerah 2025–2027.
-
Memperkuat monitoring harga dan stok bahan pokok secara berkala.
-
Mengoptimalkan peran BUMD dengan memanfaatkan produk lokal untuk menjaga pasokan.
-
Meningkatkan pengawasan mutu dan kuantitas beras bersama Satgas Pangan melalui inspeksi mendadak (sidak) rutin.
Fokus Jangka Panjang: Stabilitas untuk PPU dan IKN
Upaya pengendalian inflasi di PPU tidak hanya menyangkut kebutuhan jangka pendek, tetapi juga menyangkut peran daerah tersebut sebagai penyangga pangan IKN. Jika harga pangan di PPU stabil, maka pasokan pangan untuk IKN pun akan lebih terjamin.
“Ini bukan hanya tentang menjaga harga di pasar, tapi juga bagian dari menjaga stabilitas ekonomi daerah. Dengan pengendalian inflasi yang baik, daya beli masyarakat tetap kuat, pertumbuhan ekonomi bisa lebih sehat, dan PPU siap berperan dalam mendukung IKN,” pungkas Bupati Mudyat Noor.















